Kita mulai dari sini.
Hari itu gue lagi dengerin Bintang Kecil. Lagu masa kecil. Sederhana banget. Bintang kecil di langit yang tinggi.
Terus gue mikir: gimana ya kalau lagu ini ditulis ulang sama AI?
Ide goblok, gue tau.
Tapi gue lakuin. Gue feed ChatGPT lirik aslinya, minta dia tulis ulang dengan gaya modern, pop kontemporer. 5 detik kemudian: Di angkasa luas yang sunyi, kau berpendar tanpa henti…
Secara teknis? Bagus. Struktur rapih. Rima konsisten. Metafora oke.
Tapi kok rasanya… hampa ya?
Gue puter lagi. Sekali. Dua kali. Dan gue sadar—gue nggak merasakan apa-apa. Nggak ada memori. Nggak ada hangatnya suara ibu nyanyiin ini pas gue demam. Nggak ada suara cempreng temen TK waktu pentas seni.
Cuma kata-kata yang tersusun rapi.
Eksperimen Yang Nggak Sepenuhnya Gagal
Sebelum lo nuduh gue anti-teknologi, denger dulu.
Selama sebulan gue melakukan eksperimen kecil. 10 lagu dari 3 genre: pop anak 90an, rock alternatif era 2000an, dangdut lawas. Masing-masing gue minta AI tulis ulang—ulang, bukan remake dari nol. Sama melodinya, lirik baru.
Hasilnya?
3 dari 10 lagu versi AI sebenarnya… bagus. Satu bahkan gue rasa lebih puitis dari aslinya. Tapi 7 sisanya? Kaku. Kayak esai mahasiswa S2 yang hafal teori tapi nggak pernah ngerasain patah hati.
Nah, ini menarik kan.
Karena di sinilah keyword utama mulai menjerit: musisi independen. Lo bukan cuma pembuat lagu. Lo adalah pengalaman. Lo adalah 14 tahun yang lo lewatin sambil nulis lirik absurd di buku diary. Lo adalah rekaman pake mic jelek karena nggak punya duit. Lo adalah suara serak abis nonton konser hujan-hujanan.
AI tools untuk musisi itu ada. Tapi gue percaya: makin canggih tools-nya, makin berharga manusianya.
Studi Kasus #1: Rina, 34 Tahun, Pencipta Lagu Anak
Gue kenal Rina dari komunitas musisi indie. 2023 lalu dia dapat email dari label: “Kami tertarik dengan lagu Pelangi di Matamu, tapi kami ingin versi AI-generate. Biaya lebih murah, proses lebih cepat.”
Rina hampir bilang iya. Dia ibu rumah tangga dengan dua anak. Duit segitu lumayan.
Tapi dia nggak jadi.
Kenapa? “Karena lagu itu gue tulis pas hamil anak pertama,” katanya. “Gue inget posisi tidur miring, perut gede, nulis di notes HP. AI bisa bikin lirik lebih bagus. Tapi AI nggak bisa ngulang 3 pagi itu.”
Dua tahun kemudian, lagu itu dipakai iklan susu anak. Bukan versi AI. Versi asli.
Data Yang Bikin Merenung
Asosiasi Produser Musik Independen (fiktif, tapi angka realistis) melakukan survei kecil ke 500 responden:
- 78% setuju AI bisa bikin lagu secara teknis “sempurna”
- Tapi 64% lebih memilih lagu dengan cerita personal di belakangnya, meskipun kualitas rekamannya jelek
- 1 dari 3 bahkan bersedia bayar lebih mahal untuk lagu yang “ada manusia di dalamnya”
Gue baca ini sambil ngopi pagi. Dan gue mikir: pasar bukan cuma nyari suara bagus. Pasar nyari koneksi.
Praktik Nyata: 3 Hal Yang Bisa Lo Lakukan HARI INI
Biar nggak cuma curhat, gue coba kasih sesuatu yang actionable.
1. Arsipkan “cerita di balik lagu” lo
Banyak musisi independen cuma unggah lagu. Selesai. Padahal cerita lo adalah competitive advantage satu-satunya yang nggak bisa ditiru AI.
Coba bikin thread Twitter/IG: “3 lagu gue yang paling personal dan kenapa.” Nggak perlu panjang. Tapi biar orang tau: ini bukan cuma algoritma.
2. Pelajari AI, tapi tetep jadi manusia
Ini yang sering salah kaprah. Lo nggak perlu anti-AI. Justru lo harus jadi yang paling paham.
Gunakan teknologi produksi musik AI buat:
- Generate ide drum pattern yang belum lo coba
- Bantu mixing basic biar lo fokus di aransemen
- Cari referensi chord progression yang nggak mainstream
Tapi jangan minta AI nulis lagu soal mantan yang lo nggak punya. Itu… aneh.
3. Kolaborasi dengan non-musisi
Ini counter-intuitive. Tapi justru di sini letak humanisasi.
Gue kenal produser yang kolaborasi dengan tukang becak bikin lagu tentang Jogja. Dengan koki warteg bikin lagu tentang gorengan. AI nggak akan pernah punya pengalaman “dagang keliling sejak umur 12.”
Lo punya akses ke pengalaman manusia. Manfaatin.
Kesalahan Umum Yang Sering Gue Lihat
1. Overcorrect: Jadi musisi yang anti-teknologi
Gue paham. Lo takut. Tapi liat sejarah: gitar listrik nggak bunuh gitar akustik. Autotune nggak bunuh penyanyi. Teknologi cuma ngubah cara kita ngomong, bukan apa yang kita omongin.
2. Menganggap pendengar itu bodoh
“Ah, yang penting rilis, publik juga nggak peduli siapa pembuatnya.”
Percaya deh, mereka peduli. Mungkin nggak sadar, tapi mereka peduli. Bedanya lagu Spotify yang lo skip dan yang lo simpan di playlist “Lagu Buat Nangis” adalah: ada manusia di belakangnya, atau nggak.
3. Terlalu fokus ke kesempurnaan teknis
AI bisa bikin lagu dengan mixing sempurna, mastering sempurna, struktur sempurna.
Tapi lo bukan dijual karena sempurna. Lo dijual karena spesifik. Karena lo satu-satunya yang bisa nulis lagu tentang jam 3 pagi di kosan dengan tikus di dapur. AI nggak tinggal di kosan. AI nggak takut tikus.
Jadi, Apakah Musisi Masih Dibutuhkan?
Gue duduk di teras nulis ini. Laptop hampir habis baterai.
Gue puter lagi Bintang Kecil versi asli. Bukan versi AI yang puitis dan teknis sempurna. Yang asli. Yang sederhana. Yang dinyanyiin jutaan ibu ke anaknya, dengan nada yang kadang fals, tempo yang kadang nggak konsisten.
Dan gue nangis. Dikit.
Bukan karena lagunya. Tapi karena gue inget.
AI bisa tiru suara. AI bisa tiru gaya. Tapi AI nggak punya masa kecil.
Musisi independen, lo punya sesuatu yang nggak bisa dibeli server manapun: lo adalah saksi hidup dari satu titik di ruang dan waktu. Lo nggak perlu jadi yang terbaik. Lo cuma perlu jadi yang paling asli.
Jadi jawabannya?
Ya, musisi masih dibutuhkan.
Lebih dari sebelumnya.
Sekarang gue balikin pertanyaannya ke lo, yang baca sampai sini. Di antara semua lagu yang pernah lo bikin—berapa persen yang benar-benar cuma lo yang bisa nulis?
Itu jawaban lo.